Selasa, 10 Februari 2009

Apple, Semangat Organisasi yang Kreatif

. Selasa, 10 Februari 2009

Di luar Linux, ada organisasi bidang teknologi informasi yang juga mengandalkan kreativitas. Berawal dari ide kreatif, lalu berakhir sebagai industri besar sampai hari ini. Semangat organisasi para pengembang serta pecinta produknya sulit ditumbangkan. Bagian terakhir dari dua tulisan.

Apple adalah suatu misteri, dan akan selalu menjadi misteri. Berkebalikan dengan Linux, yang menerapkan sistim sosialisme, Apple menerapkan, bukan kapitalisme, namun apa yang disebut sebagai ‘kultus misteri’. Beberapa saat sebelum Macworld, selalu beredar isu, bahwa apple akan meluncurkan produk ini atau itu. Ada kalanya isu itu terbukti, ada kalanya tidak. Namun, isu-isu tersebut menjadikan Apple menjadi suatu organisasi yang misterius.

Kabar sakitnya Steve Jobs akhir-akhir ini, justru memperkuat aura misteri tersebut, sebab para pengamat hanya bisa menerka-nerka apa sebenarnya penyakit Jobs dan separah apa. Jobs hanya memberikan keterangan seadanya mengenai kondisi kesehatan dia. Namun, justru hal ini yang membuat semakin banyak orang yang penasaran terhadap produk apple, dan tertarik untuk membelinya.

Selama puluhan tahun sampai sekarang, platform macintosh adalah platform dominan dalam creative industry. Seniman, DJ, Adviertiser, Creative content menjadikan macintosh sebagai platform mereka. Aplikasi-aplikasi penting di dunia creative content, seperti Adobe Photoshop, pertama kali dikembangkan untuk platform macintosh. Produk Apple MacBook air menjadi laptop favorit para DJ, sebab mudah dibawa kemana-mana, oleh para DJ yang memang mobile. Dua buah gadget buah tangan Apple, yaitu iPod dan Iphone, menjadi best seller di seluruh dunia. Bahkan pengguna sistim operasi lain pun dengan senang hati menggunakan iPod dan iPhone, disebabkan oleh fitur mereka yang memang outstanding dan mudah digunakan.

Kultus

Produk Apple selalu digemari, sebab memang terkenal handal, dan mudah digunakan. Di masa lalu, Apple selalu terkenal sebagai perusahaan yang selalu memproduksi komputer-komputer mahal. Namun sekarang tidak demikian. Harga sebuah komputer mac, sangat kompetitif jika dibandingkan dengan sebuah PC. Berbeda juga dengan masa lalu, sekarang komputer mac dapat menjalankan Windows dan Linux secara native.

Kultus misteri dalam Mac, bisa dirangkum dalam sebuah sinisme yang disebut sebagai ‘reality distortion field’ (RDF). RDF merupakan sindiran seorang praktisi TI terhadap Steve Jobs, sebab Jobs mampu mempengaruhi siapapun yang menghadiri presentasinya dengan sangat baik. Terlepas dari sinisme tersebut, alhasil gaya presentasi Jobs, yang sederhana, powerful, namun tetap artistik akhirnya banyak ditiru oleh presenter lain, dengan rekontekstualisasi masing-masing.

Di kalangan tertentu, memang mudah melihat kehadiran Apple. Di masa lalu, jika kita jalan-jalan ke mall dan nongkrong di cafe manapun di Indonesia, akan sangat jarang melihat pemakai laptop mac. Mayoritas laptop PC. Namun jaman sekarang, pemakai mac sudah semakin banyak, dan mereka tidak ragu untuk menunjukkan identitasnya, dengan mebawanya ke Cafe, misalnya. Hadirnya gadget yang harganya terjangkau namun handal, seperti iPhone dan iPod, membuat produk Apple semakin digemari.

Kredo Kesaksian dan Keselamatan: Moralitas dalam Organisasi

Kedua organisasi tersebut memiliki persamaan dalam mengembangkan dirinya, yaitu adanya semangat religius. Pertama, mengenai kredo kesaksian, kedua organisasi memiliki persamaan, yaitu para user memberikan kesaksian bahwa mereka berpindah dari sistim operasi yang lama, ke sistim operasi baru. Cenderung kesaksian yang mereka berikan bernada sama, yaitu sistim operasi yang lama itu kurang bagus, sementara yang baru jauh lebih bagus, tentu dengan alasannya masing-masing. Fenomena ini sangat mirip dengan konversi agama, dimana ada beberapa kasus agama lama dikritisi habis, sementara agama baru dipuji-puji. Kedua, dalam masing-masing organisasi diberikan panduan yang jelas, bahwa untuk menyelesaikan masalah, ada tata cara yang sebaiknya diikuti. Dalam kasus Linux, hal ini memang tidak terlalu jelas, sebab organisasi yang tersentralisasi tidak ada dalam Linux. Namun, dalam kedua organisasi tersebut sangat ditekankan, bahwa cara mereka adalah yang terbaik dalam menyelesaikan permasalahan. Jadi ada pandangan manichean, dimana mereka adalah yang terbaik, diluar mereka adalah tidak demikian. Mirip dengan konsep keselamatan dalam agama, dimana jika kita percaya terhadap dogma agama tersebut, maka kita masuk surga. Jika tidak, maka akan masuk neraka. Moralitas dalam hal ini sudah terdefinisikan dengan sangat jelas, dimana solusi yang terbaik adalah solusi mereka.

Terlepas dari kredo kesaksian dan keselamatan yang mereka gunakan itu baik secara moral atau tidak, namun hal ini sangat efektif dalam memompa semangat fanatisme dan ‘nasionalisme’ terhadap organisasi tersebut. Kedua organisasi tersebut sudah menunjukkan contoh yang sangat baik, dimana setiap anggota organisasi sangat loyal terhadapnya. Semangat religius yang dipompakan tersebut, mampu memperluas daerah pengaruh organisasi.

Sumber referensi:

http://www.macworld.com
http://www.infolinux.co.id
http://www.linuxfoundation.org
http://www.apple.com
Koentjaraningrat, ‘Antropologi’
Max Weber, ‘Protestant Ethics and the spirit of Capitalism’
Muhamad Iqbal, ‘Reconstruction of Religious thought in Islam’

foto: hongkiat.com

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com | Power by blogtemplate4u.com